BUKAN PASAR MALAM
Karya: Pramoedya Ananta Toer
Aku tak pernah menyangka mendengar berita bahwa ayah di Blora sedang sakit. Sesak didada, kegugupan datang menyusul. Dalam kepalaku terbayang ayah lalu kemudian uang. Dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi?. Dan ini membuat aku mengendarai kota Jakarta untuk mencari kawan - kawan dan hutang. Dan berhasilah aku mendapat hutang itu. Surat pedas yang ku kirimkan dulu, mengakibatkan perasaan berdosa dalam dadaku. Dan untuk menghilangkan semua itu aku wajib datang menemui ayah yang sedang sakit.
Pagi itu kereta pertama telah meluncur diatas relnya dari Stasiun Gambir dan kabut tipis masih menabiri pemandangan. Kuhisap sebatang rokok dan dingin pagi serta dingin angin pun tiada terasa betul kini. Tiba – tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di Stasiun Jatinegara. Yang terbayang dalam benakku adalah ayah. Bukankah hidup ayah juga dicangkuli, diendapkan dan diseret seperti gundukan tanah tersebut. Aku mengeluh, hatiku tersayat. Aku memang perasa. Kutatap mataku rapat – rapat agar tak melihat gundukan tanah itu. Dan karena aku sudah beristeri dan isteriku duduk disampingku, pandanganku kulemparkan padanya.
Kereta kami melalui stasiun dan halte – halte yang tinggal lantai belaka, pembakaran kapur, penumpukan kayu jati. Waktu kereta memasuki batas kota Blora. Kami segera berkemas kemudian kereta berheti di Stasiun kereta Blora. Kami jinjing bawaan kami. Dan dokar yang membawa kami ke rumah yang sudah kutinggalkan selama ini berjalan ayem seperti dulu juga. Dan dikala dokar kami berheti dirumah yang sudah lama aku tinggalkan itu, adik – adik berseru riang. Tap mereka tak mau mendekat. Barangkali mereka malu karena aku telah punya isteri.
Kami duduk diruang depan. Dan kami mengobrol panjang tentang Jakarta, Semarang, dan mobil. Dan dikala itu aku bertanya tentang keadaan ayah. Semua berdiam diri. Akhirnya adikku yang keempat membelokan arah percakapan ke jurusan lain. Bahwa adikku yang ketiga sudah bersuami dan sekarang sedang sakit. Perlahan aku bangun, pergi ke kamar untuk menemuinya. Tampak olehku sepasang mata memandangku. Dan mata itu merah dan berair – air, kurangkul dia. Dia menangis dan aku pun menangis. Ia sudah tenang sekarang. Perlahan ia mengatupakan tapuk matanya. Sekali ku cium pipinya yang dulu montok dan kini kering itu. Kemudian kutingalkan.
Sore itu kami pergi ke rumah sakit dengan dokar. Rumah sakit terletak dua kilometer dari rumah kami. Rumah sakit itu nampak sepi. Kamar nomer tigabelas adalah kamar ayahku. Perlahan kami masuk. Aku lihat ayah tersenyum – senyum seperti orang yang sudah merasa puas hidup di dunia ini. Kemudian airmata meleleh pada mata yang cekung itu. Segera kupegang tangan Ayah. Dan kulihat kini badan ayah yang dahulu tegap itu kini telah menyerupai sebilah papan. Aku melepaskan peganganku pada tangnnya. Setelah itu aku memperkenalkan isteriku ke ayah. Ayah menutup mata. Tiba – tiba badai batuk menyerang ayah. Waktu tempat ludah itu diletakkan kembali di kursi, kami lihat ludah baru itu berwarna merah. Aku menangis sekarang. Dan ayah memandangiku yang sedang menangis. Aku kehilangan ayahku, kata hatiku sendiri.
Malam itu kami pulang ke rumah setelah itu kami mengobrol lagi tentang Jakarta, Semarang, mobil dan banyaknya bajingan yang da di Jakarta. Di waktu itu jugalah paman datang dengan bibi. Dan karena sudah diadatkan dikampung kami bahwa anak – anak tak boleh turut bercakap – cakap dengan orang – oran dewasa, mereka pergi ke ruang belakang dan belajar. Isteriku berkenalan dengan paman dan bibi. Obrolan bersambung. Tanya menanya berganti. Kopi menyelingi. Dan akhirnya datang pula ke obrolan mengenai ayah. Paman berkata seakan – akan suara itu menegaskan suatu pengertian bahwa ayah mesti mati. Dan diakhir obrolan paman berkata bahwa besok kita harus cari dukun.
Jam sembilan pagi aku bangun. Baru seseudah mandi ada kesempatan padaku melihat – lihat rumah pelantaran. Air dikota kami itu tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng disini tak bisa diharapkan. Rumah yang kudiami semasa kecilku, kini sudah Nampak miring. Sebagian dari dinding temboknya telah runtuh. Tanah daerah kami adalah tanah bercampur kapur dan lempung. Dimusim panas tanah lempung itu pecah – pecah dan lantai yang terbuat dari batu disobek – sobeknya. Aku sudah berjanji dengan ayah bahwa aku akan merenovasinya.
Setelah bedug maghrib berlalu, aku dan pamanku berangkat mencari dukun. Apa yang kami namai dukun iu adalah seorang guru sekolah rakyat diluar kota. Dalam dadaku timbul pergulatan – pergulatan yang bisa timbul bila menghadapi kekuasaan dukun. Betul – betul bisakah seorag dukun mengobati si sakit yang dokter sendiri tidak sanggup?. Tapi harapan melenyapkannya karena setelah dukun itu melakukan pengheningan cipta tidak menemukan penyakit apapun didalam tubuh ayahku. Dan dukun itu hanya memebri syarat berupa sebungkai dupa. Jika seorang dukun dalam pengheningan cipta tidak menemukan apapun berarti suatu tanda yang buruk.
Keesokan harinya kami menengok ke rumah sakit. Sekalian aku dengan isteri berpamitan dengan ayah karena keuangan kita. Tapi ayah meminta semingu lagi untuk tetap berada di Blora. Dan aku menyetujuinya. Sejak hari itu banyak terjadi perubahan dalam kesehatan ayah dan banyak pula permmintaan seperti ingin ikan lele, pepaya, es dan lain-lain tapi permintaan itu tinggal jadi permintaan saja. Kesehatan ayah kian mundur. Aku jadi teringat kata orang dulu jika permintaan itu hanya karena keinginan selintas saja bearti suatu pertanda. Dan itu berpengaruh besar atas diriku. Malam itu aku juga sengaja tak tidur. Dalam seminggu itu tak terjadi apa – apa. Hanya kesehatan ayah tambah menguatirkan. Dan dalam semimnngu itu pula orang – orang berkata kenapa ayahmu tidak dibawa pulang saja?. Dan perkataan itu menusuk – nusuk dalam benak kami. Ayah menyuruh aku dan isteriku untuk pulang ke Jakarta tapi aku bilang kepadanya bahwa aku pulang nanti – nanti saja. Mana bisa aku pulang dengan kondisi kesehatan ayah yang semakin menurun.
Demi untuk memenuhi keinginan ayah yang ingin pulang ke rumah aku meminta izin ke dokter dan dokter itu menyetujuinya. Selama di ambulance ayah selalu menyebut nama Allah tiada hentinya. Setelah sampai dirumah ayah langsung dibaringkan dikasur yang biasa ia tiduri. Bergantian – gantian kami menunggu ayah dengan adik – adikku. Keesokannya harinya sore itu aku dan isteriku pergi berjalan – jalan melalui jarak limaratus meter dari rumah. Banyak yang kupercakapkan dengan isteriku. Dan kami menjadi bertengkar dalam berjalan – jalan itu. Uang! Jakarta! Ayah! Rumah yang rusak !Dan sebagaimana biasanya pertengkaran yang timbul oleh lainnya alasan dan pendirian. Pertengkaran yan terjadi dengan bisik – bisik itu, tak mendapatkan sesuatu keputusan apa – apa. Hanya suatu kebuntuan.
Dupa yang waktu itu diberikan dukun tersebut untuk dicelupkan di air minum ayah tak memberi berkat apa – apa pada kesehatan ayah. Ini membuat kami malas mengerjakannya lagi. Siang itu hari terlampau panas. Tempat kami, daerah yang terkurung oleh hutan jati, panas menyengat di siang hari dan dinginnya menggigil kulit dimalam dan pagi hari. Dan debu menyembur – nyembur mengisi ruang hawa yang panas itu. Waktu itu baru sejenak aku tertidur oleh kecapaian semalam. Adikku yang keempat berlari –lari mencariku dia berkata bahwa ayah ngomngnya melantur. Sontak aku langsung ke kamar yang ditiduri oleh ayah. Dan benar saja kudapati ayah sedang berkata ngelantur. Aku langsung memegang tangan kurus ayah itu dengan erat. Setelah ayah sudah agak tenangan dan tidak berbicara melantur lagi ayah menyuruh kami untuk kelur tinggalkannya sendirian. Ada saja sesuatu yang tidak enak didalam pikiranku bahwa ayah akan meninggalkan kami. Dan kami terus juga menangis sambil berjalan keluar kamar. Hari itu pun tak terlupakan olehku. Hari Kamis menjelang maghrib aku duduk – duduk di kursi sambil meneguki air kopi. Kemudian adikku yang keempat berlari –lari mendapatkanku ia berkata bahwa ayah telah tiada. Cepat – cepat aku lari ke dalam kamar ayah yang sudah diterangi lampu minyak tanah. Sebagian adikku sudah ada disitu. Disaat itu juga tidak kusangka – sangka para tetangga datang dan memberkan bantuannya. Semakin lama semakin banyak tetangga berdatangan, rumah kami telah penuh oleh pelawat.
Malam itu ayah yang tak bernyawa lagi itu dibaringkan di bale dalam kerumunan orang banyak yang duduk –duduk di kursi. Beratus macam percakapan timbul. Para tamu menggerombol – gerombol dengan kawan sepahamnya masing-masing. Aku berpikir dalam benakku mengapa kita harus bercerai–cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai – ramai lahir dan ramai – ramai mati? Aku ingin dunia seperti pasar malam. Tamu baru kian lama kian banyak juga. Akhirnya jenazah itu pun dibawalah kerumah manusia yang terakhir kuburan.
Selama zaman perang. Selama Jepang mendarat hingga runtuhnya pemerintahan Belanda di Indonesia kami telah kehilangan ibu, adik yang terkecil. Keduanya berjajar dalam satu kuburan. Kemudian disamping kuburan ibu membujur kuburan nenek. Dan disampingnya lagi kuburan baru rumah ayah yang terakhir. Dan disamping kuburan itu membujur kuburan kakek. Dan kuburan yang telah delapan tahun tak pernah kulihat lagi itu kini telah penuh oleh kuburan baru. Kuburan mereka yang dianggap pahlawan. Dikala para pengantar telah menyaksikan penurunan jenazah ayah ke dalam lahatnya juga dikala mereka telah mennurunkan tanah dari unggukannya, kemudian perlahan – lahan kami meninggalkan kuburan. Dan kami berjalan terus pulang kerumah dimana ibu meninggal dan barangkali juga dimana kelak kami semua meningga dunia. Di dunia ini, manusia bukan berduyun – duyun lahir di dunia dan berduyun – duyun pula kembali pulang. Seorang – seorang mereka datang. Seorang–seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.