Minggu, 02 Desember 2018

Sinopsis Bukan Pasar Malam

               BUKAN PASAR MALAM
       Karya: Pramoedya Ananta Toer

Aku tak pernah menyangka mendengar berita bahwa ayah di Blora sedang sakit. Sesak didada, kegugupan datang menyusul. Dalam kepalaku terbayang ayah lalu kemudian uang. Dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi?. Dan ini membuat aku mengendarai kota Jakarta untuk mencari kawan - kawan dan hutang. Dan berhasilah aku mendapat hutang itu. Surat pedas yang ku kirimkan dulu, mengakibatkan perasaan berdosa dalam dadaku. Dan untuk menghilangkan semua itu aku wajib datang menemui ayah yang sedang sakit.
Pagi itu kereta pertama telah meluncur diatas relnya dari Stasiun Gambir dan kabut tipis masih menabiri pemandangan. Kuhisap sebatang rokok dan dingin pagi serta dingin angin pun tiada terasa betul kini. Tiba – tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di Stasiun Jatinegara. Yang terbayang dalam benakku adalah ayah. Bukankah hidup ayah juga dicangkuli, diendapkan dan diseret seperti gundukan tanah tersebut. Aku mengeluh, hatiku tersayat. Aku memang perasa. Kutatap mataku rapat – rapat agar tak melihat gundukan tanah itu. Dan karena aku sudah beristeri dan isteriku duduk disampingku, pandanganku kulemparkan padanya.
Kereta kami melalui stasiun dan halte – halte yang tinggal lantai belaka, pembakaran kapur, penumpukan kayu jati. Waktu kereta memasuki batas kota Blora. Kami segera berkemas kemudian kereta berheti di Stasiun kereta Blora. Kami jinjing bawaan kami. Dan dokar yang membawa kami ke rumah yang sudah kutinggalkan selama ini berjalan ayem seperti dulu juga. Dan dikala dokar kami berheti dirumah yang sudah lama aku tinggalkan itu, adik – adik berseru riang. Tap mereka tak mau mendekat. Barangkali mereka malu karena aku telah punya isteri.
Kami duduk diruang depan. Dan kami mengobrol panjang tentang Jakarta, Semarang, dan mobil. Dan dikala itu aku bertanya tentang keadaan ayah. Semua berdiam diri. Akhirnya adikku yang keempat membelokan arah percakapan ke jurusan lain. Bahwa adikku yang ketiga sudah bersuami dan sekarang sedang sakit. Perlahan aku bangun, pergi ke kamar untuk menemuinya. Tampak olehku sepasang mata memandangku. Dan mata itu merah dan berair – air, kurangkul dia. Dia menangis dan aku pun menangis. Ia sudah tenang sekarang. Perlahan ia mengatupakan tapuk matanya. Sekali ku cium pipinya yang dulu montok dan kini kering itu. Kemudian kutingalkan.
Sore itu kami pergi ke rumah sakit dengan dokar. Rumah sakit terletak dua kilometer dari rumah kami. Rumah sakit itu nampak sepi. Kamar nomer tigabelas adalah kamar ayahku. Perlahan kami masuk. Aku lihat ayah tersenyum – senyum seperti orang yang sudah merasa puas hidup di dunia ini. Kemudian airmata meleleh pada mata yang cekung itu. Segera kupegang tangan Ayah. Dan kulihat kini badan ayah yang dahulu tegap itu kini telah menyerupai sebilah papan. Aku melepaskan peganganku pada tangnnya. Setelah itu aku memperkenalkan isteriku ke ayah. Ayah menutup mata. Tiba – tiba badai batuk menyerang ayah. Waktu tempat ludah itu diletakkan kembali di kursi, kami lihat ludah baru itu berwarna merah. Aku menangis sekarang. Dan ayah memandangiku yang sedang menangis. Aku kehilangan ayahku, kata hatiku sendiri.
Malam itu kami pulang ke rumah setelah itu kami mengobrol lagi tentang Jakarta, Semarang, mobil dan banyaknya bajingan yang da di Jakarta. Di waktu itu jugalah paman datang dengan bibi. Dan karena sudah diadatkan dikampung kami bahwa anak – anak tak boleh turut bercakap – cakap dengan orang – oran dewasa, mereka pergi ke ruang belakang dan belajar. Isteriku berkenalan dengan paman dan bibi. Obrolan bersambung. Tanya menanya berganti. Kopi menyelingi. Dan akhirnya datang pula ke obrolan mengenai ayah. Paman berkata seakan – akan suara itu menegaskan suatu pengertian bahwa ayah mesti mati. Dan diakhir obrolan paman berkata bahwa besok kita harus cari dukun.
Jam sembilan pagi aku bangun. Baru seseudah mandi ada kesempatan padaku melihat – lihat rumah pelantaran. Air dikota kami itu tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng disini tak bisa diharapkan. Rumah yang kudiami semasa kecilku, kini sudah Nampak miring. Sebagian dari dinding temboknya telah runtuh. Tanah daerah kami adalah tanah bercampur kapur dan lempung. Dimusim panas tanah lempung itu pecah – pecah dan lantai yang terbuat dari batu disobek – sobeknya. Aku sudah berjanji dengan ayah bahwa aku akan merenovasinya.
Setelah bedug maghrib berlalu, aku dan pamanku berangkat mencari dukun. Apa yang kami namai dukun iu adalah seorang guru sekolah rakyat diluar kota. Dalam dadaku timbul pergulatan – pergulatan yang bisa timbul bila menghadapi kekuasaan dukun. Betul – betul bisakah seorag dukun mengobati si sakit yang dokter sendiri tidak sanggup?. Tapi harapan melenyapkannya karena setelah dukun itu melakukan pengheningan cipta tidak menemukan penyakit apapun didalam tubuh ayahku. Dan dukun itu hanya memebri syarat berupa sebungkai dupa. Jika seorang dukun dalam pengheningan cipta tidak menemukan apapun berarti suatu tanda yang buruk.
Keesokan harinya kami menengok ke rumah sakit. Sekalian aku dengan isteri berpamitan dengan ayah karena keuangan kita. Tapi ayah meminta semingu lagi untuk tetap berada di Blora. Dan aku menyetujuinya. Sejak hari itu banyak terjadi perubahan dalam kesehatan ayah dan banyak pula permmintaan seperti ingin ikan lele, pepaya, es dan lain-lain tapi permintaan itu tinggal jadi permintaan saja. Kesehatan ayah kian mundur. Aku jadi teringat kata orang dulu jika permintaan itu hanya karena keinginan selintas saja bearti suatu pertanda. Dan itu berpengaruh besar atas diriku. Malam itu aku juga sengaja tak tidur. Dalam seminggu itu tak terjadi apa – apa. Hanya kesehatan ayah tambah menguatirkan. Dan dalam semimnngu itu pula orang – orang berkata kenapa ayahmu tidak dibawa pulang saja?. Dan perkataan itu menusuk – nusuk dalam benak kami. Ayah menyuruh aku dan isteriku untuk pulang ke Jakarta tapi aku bilang kepadanya bahwa aku pulang nanti – nanti saja. Mana bisa aku pulang dengan kondisi kesehatan ayah yang semakin menurun.
Demi untuk memenuhi keinginan ayah yang ingin pulang ke rumah aku meminta izin ke dokter dan dokter itu menyetujuinya. Selama di ambulance ayah selalu menyebut nama Allah tiada hentinya. Setelah sampai dirumah ayah langsung dibaringkan dikasur yang biasa ia tiduri. Bergantian – gantian kami menunggu ayah dengan adik – adikku. Keesokannya harinya sore itu aku dan isteriku pergi berjalan – jalan melalui jarak limaratus meter dari rumah. Banyak yang kupercakapkan dengan isteriku. Dan kami menjadi bertengkar dalam berjalan – jalan itu. Uang! Jakarta! Ayah! Rumah yang rusak !Dan sebagaimana biasanya pertengkaran yang timbul oleh lainnya alasan dan pendirian. Pertengkaran yan terjadi dengan bisik – bisik itu, tak mendapatkan sesuatu keputusan apa – apa. Hanya suatu kebuntuan.
Dupa yang waktu itu diberikan dukun tersebut untuk dicelupkan di air minum ayah tak memberi berkat apa – apa pada kesehatan ayah. Ini membuat kami malas mengerjakannya lagi. Siang itu hari terlampau panas. Tempat kami, daerah yang terkurung oleh hutan jati, panas menyengat di siang hari dan dinginnya menggigil kulit dimalam dan pagi hari. Dan debu menyembur – nyembur mengisi ruang hawa yang panas itu. Waktu itu baru sejenak aku tertidur oleh kecapaian semalam. Adikku yang keempat berlari –lari mencariku dia berkata bahwa ayah ngomngnya melantur. Sontak aku langsung ke kamar yang ditiduri oleh ayah. Dan benar saja kudapati ayah sedang berkata ngelantur. Aku langsung memegang tangan kurus ayah itu dengan erat. Setelah ayah sudah agak tenangan dan tidak berbicara melantur lagi ayah menyuruh kami untuk kelur tinggalkannya sendirian. Ada saja sesuatu yang tidak enak didalam pikiranku bahwa ayah akan meninggalkan kami. Dan kami terus juga menangis sambil berjalan keluar kamar. Hari itu pun tak terlupakan olehku. Hari Kamis menjelang maghrib aku duduk – duduk di kursi sambil meneguki air kopi. Kemudian adikku yang keempat  berlari –lari mendapatkanku ia berkata bahwa ayah telah tiada. Cepat – cepat aku lari ke dalam kamar ayah yang sudah diterangi lampu minyak tanah. Sebagian adikku sudah ada disitu. Disaat itu juga tidak kusangka – sangka para tetangga datang  dan memberkan bantuannya. Semakin lama semakin banyak tetangga berdatangan, rumah kami telah penuh oleh pelawat.
Malam itu ayah yang tak bernyawa lagi itu dibaringkan di bale dalam kerumunan orang banyak yang duduk –duduk di kursi. Beratus macam percakapan timbul. Para tamu menggerombol – gerombol dengan kawan sepahamnya masing-masing. Aku berpikir dalam benakku mengapa kita harus bercerai–cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai – ramai lahir dan ramai – ramai mati? Aku ingin dunia seperti pasar malam. Tamu baru kian lama kian banyak juga. Akhirnya jenazah itu pun dibawalah kerumah manusia yang terakhir kuburan.
Selama zaman perang. Selama Jepang mendarat hingga runtuhnya pemerintahan Belanda di Indonesia kami telah kehilangan ibu, adik yang terkecil. Keduanya berjajar dalam satu kuburan. Kemudian disamping kuburan ibu membujur kuburan nenek. Dan disampingnya lagi kuburan baru rumah ayah yang terakhir. Dan disamping kuburan itu membujur kuburan kakek. Dan kuburan yang telah delapan tahun tak pernah kulihat lagi itu kini telah penuh oleh kuburan baru. Kuburan mereka yang dianggap pahlawan. Dikala para pengantar telah menyaksikan penurunan jenazah ayah ke dalam lahatnya juga dikala mereka telah mennurunkan tanah dari unggukannya, kemudian perlahan – lahan kami meninggalkan kuburan. Dan kami berjalan terus pulang kerumah dimana ibu meninggal dan barangkali juga dimana kelak kami semua meningga dunia. Di dunia ini, manusia bukan berduyun – duyun lahir di dunia dan berduyun – duyun pula kembali pulang. Seorang – seorang mereka datang. Seorang–seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.

Cerpen Tentang Sahabat

                 Arti Sahabat Bagiku
                Karya: Nabila Maulida
Jam pelajaran berlangsung seperti biasanya. Tempat duduk pun telah tersusun sedemikian rupa. Bagian depan adalah anak-anak pintar, sedangkan bagian belakang adalah anak-anak nakal yang malas belajar dan memilih untuk ngobrol dan tidur. “Oke, baik anak-anak sekarang kalian buka buku biologi halaman 15”. Suruh ibu Linda, guru biologi kami. Tanpa disuruh dua kali pun aku membuka halaman yang disebut oleh ibu Linda. “Ibu kasih kalian waktu 15 menit untuk membaca, setelah itu ibu akan memberikan kalian pertanyaan”. Ujar ibu Linda. Serempak satu kelas mengeluh dengan perkataan ibu Linda. Yang benar saja? Kami disuruh menghafal biologi yang pelajarannya menurutku termasuk ribet dan menguras memori otak.
Tidak berselang waktu 15 menit pun berlalu. Dalam hati aku berdoa mudah-mudahan 15 menit ini cukup untuk menjawab pertanyaan secara lisan dari ibu Linda. “Baik anak-anak tutup buku kalian, waktu belajar kalian telah berakhir”, instruksi dari ibu Linda. “Sebutkan mekanisme pernapasan perut secara inpirasi”, jeda dalam perkataan bu Linda, “Siapa yang bisa menjawab?”, tanya bu Linda. “Saya bu”, kuangkat tangan. “Sebutkan Cahya”. Perintah bu Linda. “Pernapasan perut secara inspirasi yaitu, otot diafragma berkontraksi, selanjutnya diafragma mendatar, kemudian volume rongga dada membesar, lalu tekanan udara dalam rongga dada lebih kecil dan udara masuk ke paru-paru”, jelasku. “Pintar!”, ujar bu Linda.
Beberapa menit kemudian bel istirahat pun berdering dengan nyaring. Sehubungan kelasku tidak sama dengan sahabat-sahabatku. Kamipun memutuskan untuk selalu bertemu di kantin sekolah. “Hai”, kusapa Thomas dan Nabila yang duduk di bagian pojok kantin, tempat paling aman dan sejahtera dari keributan dan kepanasan yang membuatku pening. “Yang lain mana?”, kutanya Thomas. “Yang lain lagi pada otw”, jawab Thomas. Aku hanya mangguk-mangguk. “Dorrr”. “Eh astaga”, kagetku. “Ck, liat-liat dong kalo mau ngagetin orang. Kalo tadi aku lagi makan terus keselek dan mati muda gimana?”, ketusku sambil menatap sengit ke arah Gina, Gath, Gisel, dan Dimas. Semua tertawa mendengar perkataan Cahya tersebut. “Eh Rana? Darimana aja kamu?”, tanya Gisel. “Abis dari ruang guru, tadi disuruh ngumpulin tugas anak-anak sama pak Angga”, ucap Rana. Rana memang ketua kelas di kelasnya jadi wajar jika ia sering terlambat kumpul di kantin. “Makanya siapa suru jadi ketua kelas? udah tau repot”, celoteh Gisel. Dengan pelan Rana mendorong kepala Gisel, “yeh, emang kamu pikir aku mau jadi pengurus kelas? Kalo bisa milih juga aku pasti nolak”, ucap Rana. “Udah ayo beli makan! ribut aja kalian kayak anak kecil”, ucap Nabila.
Memang yang paling bijak disini Nabila, pemikirannya yang paling dewasa, ingat yah dewasanya ke arah positif bukan yang negatif. Beginilah suasana persahabatan kami. Selalu tertawa meskipun kami tahu ada masalah di antara kami. Kami memang tidak akan berbicara saat makan, kata ibu Linda alias guru biologi, kalau makan sambil bicara bisa keselek, karena epiglotis atau katup pangkal tenggorokan akan terbuka bersamaan dengan katup kerongkongan yang mengakibatkan makanan salah masuk. Kami pun makan dalam keheningan. Hingga suatu getaran ponselku mengalihkan perhatianku dari acara makanku. “Halo?”, sapaku yang ada di telepon. “Apa benar ini Cahya anakya bapak Imam?”, tanya si penelpon. “Ya benar, ada apa?”, tanyaku. “Bapak anda mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di UGD rumah sakit Sari Asih”, ucap si penelpon. “Apa!!!” oke terima kasih atas infonya saya segera kesana”, ucapku masih dengan keadaan panik. “Cahya, kenapa?”, tanya Thomas yang terlihat panik juga. “Bapak, bapak aku kecelakaan, aku harus segera kesana”, ucapku dengan lemas sambil berlari sekencang mungkin tanpa mendengarkan teriakan-teriakan dari para sahabatku.
Setelah sesampainya aku di rumah sakit, aku berjalan dengan tergesa-gesa. Menelusuri koridor rumah sakit. Suara ketukan langkah kakiku mengisi kesunyiaan yang tercipta sedari tadi. Tetes demi tetes air mata jatuh memenuhi pipiku. Yang kupikirkan sekarang adalah keadaan bapakku. Bapakku tadi mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Kuterus berjalan dengan tergesa-gesa sambil melihat kanan kiri untuk tau dimana tempat ruang UGD tersebut. Jantungku berpacu semakin cepat. Hingga langkahku terhenti di depan sebuah ruangan yang diatas pintunya bertuliskan UGD atau kepanjangannya adalah Unit Gawat Darurat. Tak ada seorang pun yang berada disana, taka da yang berdiri dan menunggu keadaan bapakku. Karena taka da satu pun keluarga kami yang tinggal sekota dengan kami. Saudara bapakku tinggal di kota lain. Sedangkan ibu telah pergi meninggalkan aku dan bapak, berpulang ke pemiliknya.
Tiba-tiba saja pintu UGD terbuka. Dan munculah seorang wanita yang memakai pakaian serba putih dengan tetoskop yang menggantung di lehernya yang kuyakini bahwa itu adalah dokter yang yang menangani bapakku. “Bagaimana keadaan bapak saya dok?”, tanyaku dengan muka panik. “Bapak anda mengalami pendarahan dan sekarang keadaannya kritis kita harus bertindak dan melakukan operasi secepatnya, silahkan adik untuk mengurus biaya administrasinya di kasir”, ujar sang dokter. Air mata yang sempat terhenti kembali mengalir lagi. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? bagaimana bisa kumendapatkan uang untuk membayar administrasi rumah sakit? tak mau terlalu lama bersedih. Kuhapus air mata yang menggenang dipipiku. Aku harus kuat tidak boleh seperti ini.
Baru saja ingin melihat kondisi bapakku, tiba-tiba saja namaku dipanggil. Retina mataku menangkap sosok para sahabatku. “Gimana keadaan bapak kamu?”, tanya Gath menatap cemas kearahku. Tak merespon ucapan Gath, kumemilih untuk menghamburkan pelukanku padanya. Hingga kurasakan usapan halus di punggungku, dan selanjutnya tubuhku seperti dipeluk oleh seseorang dari belakang dan dia adalah Nabila, disusul dengan Rana, Thomas, Dimas, Gisel, dan Gina. Disini kami menangis bersamaan. Begitupun sebaliknya. Masih dengan air mata yang mengalir kupandang semua wajah sahabatku. “Bapakku kritis ia mengalami pendarahan dan harus cepat-cepat di operasi”, ucapku. Semuanya menatap kearahku. Nabila maju selangkah “Yaudah, nanti biaya administrasinya kita bantu mungkin dengan cara penggalangan dana disekolah, berjualan apa yang kita bisa buat dan lain-lain”, ujarnya sambil menepuk-nepuk punggungku. “Udah tidak usah sungkan, kita bersahabat udah bertahun-tahun, jadi kita ini bukan hanya sekedar sahabat melainkan saudara”, ucap Gina. Sungguh saat ini aku bingung harus bagaimana? kutak tahu cara bagaimana agar bisa membalas kebaikan mereka. Ku kembali mendekap ke tubuh mereka semua sambil bergumam terima kasih.
Sudah setengah jam berlalu tapi operasi masih belum selesai entah mungkin karena takut terjadi sesuatu pada bapak, jantungku berdetak dengan cepat. “Udah tenang aja”, ujar Gath seraya mengelus tanganku. Sungguh, jujur saja ada bagian kecil dihatiku yang merasa takut akan kehilangan sosok yang sangat aku butuhkan. Sosok yang selama ini membuatku berjuang hidup walaupun terkadang ada terbesit di benakku untuk mengakhiri hidupku. Namun kusadari, bahwa mengakhiri hidup ini tidak ada artinya, yang ada jiwaku tidak tenang. Kucoba untuk menenangkan diriku. Menjernihkan pikiranku dari polutan yang bernama pikiran negatif. Waktu bergilir. Detik berganti detik. Menitpun telah berubah. Tidak terasa sudah satu jam setengah aku, dan kawan-kawaan duduk menunggu kapan operasi usai. Tepat pukul 18:30 dokter keluar dari ruang operasi. Sontak saja aku dan kawan-kawan berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri dokter yang masih mengenakan pakaian operasi. “Bagaimana keadaan ayah saya dok?”, kutanya dokter dengan muka khawatir. “Tenang dik, puji Tuhan operasinya berjalan dengan lancar”, ucap dokter dengan senyuman.
Satu minggu kemudian. Kondisi bapak sudah mulai membaik dan hari aku muali sekolah. Ku menatap koridor sekolah. Kutarik napas secara perlahan, lalu ku hembuskan dengan pelan melalui hidung. Hari ini sepulang sekolah aku ada janji dengan sahabatku untuk pergi kerumah Nabila. Setelah sesampainya dirumah Nabila “Eh, dari pada diam-diam, mending kita nyanyi, kebetulan tadi Dimas bawa gitar”, cetus Gina. “Kuy”, ujar mereka serempak. Kamipun mulai bernyanyi besama-sama. Ingat tidak semua kebahagiaan itu berasal dari hal-hal yang luar biasa, karena biasanya kebahagiaan itu berasal dari hal-hal sederhana seperti ini, berkumpul bersama, bernyanyi bersama dan berbagi cerita yang suatu saat nanti akan menjadi sebuah kisah klasik. Inilah kisah perjalanan kami. Tidak ada yang mulus dari suatu hubungan, namun bukan berarti kami tidak bisa bersatu. Seperti iklan mie ibdomie yang berkata, minyak dan air memang berbeda, namun air dan minyak bisa tinggal ditempat yang sama. Inilah kami dengan segala perbedaan kami dari berbagai segi yang memilih untuk tinggal bersama dalam jalinan persahabatan. Tiga kata yang tak mungkin cukup mendeskripsikan perasaanku kepada mereka “Aku sayang mereka”.

Ancaman dari dalam negeri terhadap NKRI

Ancaman dari dalam negeri terhadap NKRI
1. Masalah KKN
Seperti yang kami mengerti Indonesia merupakan tidak benar satu negara yang tidak dapat bersih berasal dari kolusi, korupsi, dan nepotisme begitu saja. Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali pejabat negara yang menyalahgunakan kekuasaan mereka dan gunakan jabatan mereka untuk memperoleh duit negara untuk keperluan mereka sendiri, padahal telah mengerti kalau duit itu adalah punya Warga Negara Indonesia yang semestinya digunakan untuk keperluan bersama negara Indonesia. Masalah KKN yang merajalela di bermacam daerah ini menjadi tidak benar satu masalah ancamana berasal dari di dalam negeri, KKN ini sangatlah merugikan negara dan bangsa sebab korupsi dan lain-lainnya itu dapat mengancam pembangunan negara. Penyebab Korupsi dan Cara Mengatasinya harus kami ketahui juga.

2. Kesenjangan ekonomi masyarakat
Tidak cuma KKN saja, ancaman pada NKRI sanggup terjadi juga akibat adanya ketidaksejahteraan di didalam masyarakatnya. Salah satu ancaman yang kemungkinan sanggup membawa dampak Negara Indonesia terancam adalah kesenjangan ekonomi masayarakat Indonesia. Hal ini umumnya sanggup terjadi sebab adanya pemerataan penghasilan yang tidak adil antar group maupun daerah.
Contohnya: kemisikinan
3.Kasus narkoba
Yang menjadi genting pada selagi ini adalah masalah narkoba yang merajalela dan sangat sukar untuk diberantas. Kasus narkoba di Indonesia sendiri sudah sangat merajalela dan mengenai berbagai macam usia dan kalangan, terasa dari anak remaja sampai orang tua. Mulai dari pelajar sampai orang terkemuka lebih-lebih tersedia aparat yang kedapatan pakai narkoba. Narkoba sendiri sanggup menjadi ancaman untuk NKRI, sebab adanya narkoba ini sanggup mengahmbat perkembangan generasi penerus bangsa. Padahal narkoba itu punya Bahaya Narkoba Bagi Generasi Muda.
4.Ekstrem Kanan dan Kiri
Golongan ekstrem kanan mengadakan penyimpangan dari pola dasar haluan masyarakat atau negara yang telah disepakati secara resmi oleh masyarakat atau negara yang bersangkutan, karena pola dasar (misalnya haluan negara) mereka anggap tidak sanggup menjamin tercapainya nilai spiritual keagamaan yang mereka inginkan.
Golongan ekstrem kiri menyimpang dari pola dasar masyarakat atau negara, karena mereka menganggap bahwa pola dasar itu tidak sanggup menjamin tercapainya nilai-nilai material secara memuaskan.

5. Isu SARA
Masalah yang mampu menyebabkan ancaman dari dalam negeri adalah ada Isu SARA. Di Indonesia sendiri agama yang tersedia berbagai macam dan tidak cuma satu saja, beraneka suku budaya juga tersedia di Indonesia. Namun yang amat disayangkan adalah tersedia beberapa kelompok penduduk tertentu yang mempermasalahkan ada keanekaragaman di Indonesia dan tidak cukup tersedia rasa toleransi dari mereka sehingga kadang-kadang beberapa ras dan juga agama yang menjadi minoritas pun dikucilkan. Isu SARA ini tidak mampu disepelekan begitu saja sebab walaupun sekecil apa pun tindakannya mampu memecah keanekaragaman bangsa Indonesia dan juga mampu menyebabkan situasi Negara Indonesia menjadi tidak kondusif. Isu SARA yang tersedia di sedang penduduk sampai sekarang ini mampu menjadi salah satu ancaman NKRI yang membahayakan bagi warga Indonesia.
6. Pemberontakan
Pemberontakan ini bisa terjadi di beraneka area yang tersedia di di dalam Indonesia yang bisa menuntut lebih dari satu hal yang mereka inginkan. Jika tidak langsung diatasi degan baik, pemberontakan ini bisa mengancam Indonesia. Pemberontakan yang terjadi karena beraneka macam karena ini bisa memicu negara Indonesia menjadi terpecah belah.
Pemberontakan bersenjata. Contoh sejumlah aksi pemberontakan bersenjata di Indonesia yang dilakukan oleh gerakan radikal, yaitu:Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia(DI/TII), Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), Pemberontakan Kahar Muzakar, Pemberontakan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI).
7. Persoalan daerah
Persoalan kedelapan yang bisa memecah belah bangsa Indonesia adalah persoalan daerah. Persoalan ini bisa saja muncul dari pemikiran untuk memperluas area otonomi tertentu dengan alasan yang tertentu juga. Selain itu juga bisa akibat persoalan karena idamkan membiarkan diri dari Indonesia dan idamkan merdeka sendiri. Persoalan semacam itu bisa memicu ancaman bagi pemerintah dan Indonesia. Tidak hanya itu, persoalan akibat perbatasan juga bisa menjadi ancaman baik dari di dalam negeri maupun luar negeri.
8. TerorIsme
Aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh jaringan terorisme dalam negeri yang bereskalasi tinggi sehingga membahayakan kedaulatan Negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.
Contohnya: Bom Plaza Sarinah Tahun 2016

9. Perang Antar Suku
Perang Suku adalah suatu perang yang berlangsung antara dua pihak baik secara besekutu atau tidak dengan dasar keberpihakan adalah alasan "kesukuan".
Contohnya: Perang suku di Lampung, Perang suku di Sampit, Perang suku di Papua
Upaya Menanggulangi Ancaman Dari Dalam Negeri Terhadap NKRI
1. Masalah KKN
Menanamkan jiwa anti korupsi yang diikuti dengan peningkatan Iman dan Taqwa
Memperberat sanksi dan hukuman para koruptor sehingga menimbulkan efek jera dan rasa takut pejabat negara untuk melakukan tindakan yang hina itu
Menciptakan pemerintah bersih dan berwibawa, bebas KKN dan konsisten melaksanakan peraturan dan Undang-undang
Melakukan pengawasan yang ketat pada jalannya pemerintahan terutama pada bidang keuangan
Bila memungkinkan melakukan pengawasan terhadap rekening para pejabat
Belajar bersikap jujur sejak dini
Meningkatkan dan menjaga independenitas KPK dalam tugasnya memberantas korupsi
Meningkatkan kesejahteraan pegawai pemerintahan untuk meminimalisir keinginan korupsi
2. Kesenjangan ekonomi masyarakat
Meningkatkan sumber daya manusia
Memperluas lapangan kerja untuk mengimbangi jumlah angkatan kerja
Meningkatkan kualitas SDM siap kerja melalui pendidikan, seperti kerja sama antar perusahaan dengan SMK
Melakukan subsidi sembako bagi rakyat miskin
Peningkatan pelayanan atau kebutuhan dasar kepada masyarakat miskin, misalnya sekolah gratis, Kartu Jakarta Sehat dan lain-lain
Pemerataan pembangunan di seluruh pelosok tanah air
3. Kasus Narkoba
Mengawasi dengan ketat daerah yang diduga tempat-tempat prostitusi dan mewajibkan menggunakan pengaman sebelum berhubungan
Mempersempit peredaraan narkoba dengan memperketat pemeriksaan di bandara, pelabuhan, maupun daerah perbatasan
Melakukan dan ikut dalam kegiatan sosialisasi tentang bahaya narkoba
Menanamkan jiwa anti narkoba
Menyaring budaya asing dengan Pancasila
Melakukan uji urine untuk mengetahui siapa saja yang pengguna narkoba terutama supir, pilot atau orang yang bertanggung jawab atas keamanan orang banyak
Melakukan razia tempat yang diduga pabrik maupun penjualan narkoba seperti diskotik atau klub malam
4. Ekstrem Kanan dan Kiri
Mengamalkan nilai-nilai Pancasila
Menanamkan pendidikan agama sebagai pendidikan formal
Memberantas segala tindakan ekstrim
Meningkatkan keefisienan dan kinerja pemerintah dan lebih transparan agar tidak muncul masyarakat anti pemerintah
Meningkatkan Nasionalisme dan Imtaq
5.Isu SARA
Berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Mengendalikan emosi
Jangan memanaggil orang lain dengan julukan berdasarkan SARA
Jangan menghakimi dan berpikiran negatif tentang suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda
Jangan memaksakan kehendak orang lain
Menghormati dan mengasihi orang lain
Melakukan dan memikirkan hal-hal positif secara bersama-sama
6. Pemberontakan
Pemerataan pembangunan sampai pelosok daerah sehingga tidak muncul kecemburuan nasional
Meningkatkan keamanan dari pusat hingga satuan terkecil daerah sesuai prinsip Hankamrata
Meningkatkan rasa nasionalisme dengan mempelajari pendidikan kewarganegaraan dan sejaarah perjuangan Indonesia dalam merebut NKRI
Mengakui persamaan derajat dan HAM sehingga kaum minoritas tidak terdesak
7. Persoalan Daerah
Memberi perhatian kepada wilayah perbatasan
Ketegasan atas berbagai provokasi yang mengganggu kedaulatan suatu Negara
Meningkatkan sarana dan prasarana untuk menjaga keutuhan wilayah Republik Indonesia
Menyelesaikan seluruh pulau kecil dan penempatan symbol-simbol kepemilikan dan kedaulatan di pualu-pulau terluar

8. Terorisme
Menertibkan bahan baku pembuatan bom ataupun bahan yang diperlukan dalam pembuatan bom
Penarikan peredaran persenjataan yang dimiliki masyarakat sipil
Pemberantasan sekelompok terorisme yang berkeliaran di masyarakat
Meningkatkan kinerja pihak militer dengan mempelajari motif di setiap kasus terorisme
Membasmi hal-hal yang membantu perkembangan terorisme misalnya dukungan materiil dan keuangan, kontrol, kepemimpinan, dan faham yang disebarkan oleh teroris
Meningkatkan rasa nasionalisme
Meningkatkan ketahanan nasional dan mempersolid setiap susunan Hankamrata
Melaporkan warga yang diduga teroris, misalnya warga yang mengisolasikan diri dari masyarakat sekitar
9. Perang Antar Suku
Melakukan mediasi terhadap pihak yang bertikai dengan mempertemukan tokoh adat/perwakilan masing-masing pihak yang bertikai
Melakukan sosialisasi tentang pentingnya perdamaian dan kerugian adanya pertikaian
Meningkatkan kerja sama dan gotong royong antar kelompok masyarakat atau suku untuk memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas di lingkungan masyarakat
Pemerataan pembangunan agar tidak terjadi kecemburuan antar suku