Minggu, 02 Desember 2018

Cerpen Tentang Sahabat

                 Arti Sahabat Bagiku
                Karya: Nabila Maulida
Jam pelajaran berlangsung seperti biasanya. Tempat duduk pun telah tersusun sedemikian rupa. Bagian depan adalah anak-anak pintar, sedangkan bagian belakang adalah anak-anak nakal yang malas belajar dan memilih untuk ngobrol dan tidur. “Oke, baik anak-anak sekarang kalian buka buku biologi halaman 15”. Suruh ibu Linda, guru biologi kami. Tanpa disuruh dua kali pun aku membuka halaman yang disebut oleh ibu Linda. “Ibu kasih kalian waktu 15 menit untuk membaca, setelah itu ibu akan memberikan kalian pertanyaan”. Ujar ibu Linda. Serempak satu kelas mengeluh dengan perkataan ibu Linda. Yang benar saja? Kami disuruh menghafal biologi yang pelajarannya menurutku termasuk ribet dan menguras memori otak.
Tidak berselang waktu 15 menit pun berlalu. Dalam hati aku berdoa mudah-mudahan 15 menit ini cukup untuk menjawab pertanyaan secara lisan dari ibu Linda. “Baik anak-anak tutup buku kalian, waktu belajar kalian telah berakhir”, instruksi dari ibu Linda. “Sebutkan mekanisme pernapasan perut secara inpirasi”, jeda dalam perkataan bu Linda, “Siapa yang bisa menjawab?”, tanya bu Linda. “Saya bu”, kuangkat tangan. “Sebutkan Cahya”. Perintah bu Linda. “Pernapasan perut secara inspirasi yaitu, otot diafragma berkontraksi, selanjutnya diafragma mendatar, kemudian volume rongga dada membesar, lalu tekanan udara dalam rongga dada lebih kecil dan udara masuk ke paru-paru”, jelasku. “Pintar!”, ujar bu Linda.
Beberapa menit kemudian bel istirahat pun berdering dengan nyaring. Sehubungan kelasku tidak sama dengan sahabat-sahabatku. Kamipun memutuskan untuk selalu bertemu di kantin sekolah. “Hai”, kusapa Thomas dan Nabila yang duduk di bagian pojok kantin, tempat paling aman dan sejahtera dari keributan dan kepanasan yang membuatku pening. “Yang lain mana?”, kutanya Thomas. “Yang lain lagi pada otw”, jawab Thomas. Aku hanya mangguk-mangguk. “Dorrr”. “Eh astaga”, kagetku. “Ck, liat-liat dong kalo mau ngagetin orang. Kalo tadi aku lagi makan terus keselek dan mati muda gimana?”, ketusku sambil menatap sengit ke arah Gina, Gath, Gisel, dan Dimas. Semua tertawa mendengar perkataan Cahya tersebut. “Eh Rana? Darimana aja kamu?”, tanya Gisel. “Abis dari ruang guru, tadi disuruh ngumpulin tugas anak-anak sama pak Angga”, ucap Rana. Rana memang ketua kelas di kelasnya jadi wajar jika ia sering terlambat kumpul di kantin. “Makanya siapa suru jadi ketua kelas? udah tau repot”, celoteh Gisel. Dengan pelan Rana mendorong kepala Gisel, “yeh, emang kamu pikir aku mau jadi pengurus kelas? Kalo bisa milih juga aku pasti nolak”, ucap Rana. “Udah ayo beli makan! ribut aja kalian kayak anak kecil”, ucap Nabila.
Memang yang paling bijak disini Nabila, pemikirannya yang paling dewasa, ingat yah dewasanya ke arah positif bukan yang negatif. Beginilah suasana persahabatan kami. Selalu tertawa meskipun kami tahu ada masalah di antara kami. Kami memang tidak akan berbicara saat makan, kata ibu Linda alias guru biologi, kalau makan sambil bicara bisa keselek, karena epiglotis atau katup pangkal tenggorokan akan terbuka bersamaan dengan katup kerongkongan yang mengakibatkan makanan salah masuk. Kami pun makan dalam keheningan. Hingga suatu getaran ponselku mengalihkan perhatianku dari acara makanku. “Halo?”, sapaku yang ada di telepon. “Apa benar ini Cahya anakya bapak Imam?”, tanya si penelpon. “Ya benar, ada apa?”, tanyaku. “Bapak anda mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di UGD rumah sakit Sari Asih”, ucap si penelpon. “Apa!!!” oke terima kasih atas infonya saya segera kesana”, ucapku masih dengan keadaan panik. “Cahya, kenapa?”, tanya Thomas yang terlihat panik juga. “Bapak, bapak aku kecelakaan, aku harus segera kesana”, ucapku dengan lemas sambil berlari sekencang mungkin tanpa mendengarkan teriakan-teriakan dari para sahabatku.
Setelah sesampainya aku di rumah sakit, aku berjalan dengan tergesa-gesa. Menelusuri koridor rumah sakit. Suara ketukan langkah kakiku mengisi kesunyiaan yang tercipta sedari tadi. Tetes demi tetes air mata jatuh memenuhi pipiku. Yang kupikirkan sekarang adalah keadaan bapakku. Bapakku tadi mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Kuterus berjalan dengan tergesa-gesa sambil melihat kanan kiri untuk tau dimana tempat ruang UGD tersebut. Jantungku berpacu semakin cepat. Hingga langkahku terhenti di depan sebuah ruangan yang diatas pintunya bertuliskan UGD atau kepanjangannya adalah Unit Gawat Darurat. Tak ada seorang pun yang berada disana, taka da yang berdiri dan menunggu keadaan bapakku. Karena taka da satu pun keluarga kami yang tinggal sekota dengan kami. Saudara bapakku tinggal di kota lain. Sedangkan ibu telah pergi meninggalkan aku dan bapak, berpulang ke pemiliknya.
Tiba-tiba saja pintu UGD terbuka. Dan munculah seorang wanita yang memakai pakaian serba putih dengan tetoskop yang menggantung di lehernya yang kuyakini bahwa itu adalah dokter yang yang menangani bapakku. “Bagaimana keadaan bapak saya dok?”, tanyaku dengan muka panik. “Bapak anda mengalami pendarahan dan sekarang keadaannya kritis kita harus bertindak dan melakukan operasi secepatnya, silahkan adik untuk mengurus biaya administrasinya di kasir”, ujar sang dokter. Air mata yang sempat terhenti kembali mengalir lagi. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? bagaimana bisa kumendapatkan uang untuk membayar administrasi rumah sakit? tak mau terlalu lama bersedih. Kuhapus air mata yang menggenang dipipiku. Aku harus kuat tidak boleh seperti ini.
Baru saja ingin melihat kondisi bapakku, tiba-tiba saja namaku dipanggil. Retina mataku menangkap sosok para sahabatku. “Gimana keadaan bapak kamu?”, tanya Gath menatap cemas kearahku. Tak merespon ucapan Gath, kumemilih untuk menghamburkan pelukanku padanya. Hingga kurasakan usapan halus di punggungku, dan selanjutnya tubuhku seperti dipeluk oleh seseorang dari belakang dan dia adalah Nabila, disusul dengan Rana, Thomas, Dimas, Gisel, dan Gina. Disini kami menangis bersamaan. Begitupun sebaliknya. Masih dengan air mata yang mengalir kupandang semua wajah sahabatku. “Bapakku kritis ia mengalami pendarahan dan harus cepat-cepat di operasi”, ucapku. Semuanya menatap kearahku. Nabila maju selangkah “Yaudah, nanti biaya administrasinya kita bantu mungkin dengan cara penggalangan dana disekolah, berjualan apa yang kita bisa buat dan lain-lain”, ujarnya sambil menepuk-nepuk punggungku. “Udah tidak usah sungkan, kita bersahabat udah bertahun-tahun, jadi kita ini bukan hanya sekedar sahabat melainkan saudara”, ucap Gina. Sungguh saat ini aku bingung harus bagaimana? kutak tahu cara bagaimana agar bisa membalas kebaikan mereka. Ku kembali mendekap ke tubuh mereka semua sambil bergumam terima kasih.
Sudah setengah jam berlalu tapi operasi masih belum selesai entah mungkin karena takut terjadi sesuatu pada bapak, jantungku berdetak dengan cepat. “Udah tenang aja”, ujar Gath seraya mengelus tanganku. Sungguh, jujur saja ada bagian kecil dihatiku yang merasa takut akan kehilangan sosok yang sangat aku butuhkan. Sosok yang selama ini membuatku berjuang hidup walaupun terkadang ada terbesit di benakku untuk mengakhiri hidupku. Namun kusadari, bahwa mengakhiri hidup ini tidak ada artinya, yang ada jiwaku tidak tenang. Kucoba untuk menenangkan diriku. Menjernihkan pikiranku dari polutan yang bernama pikiran negatif. Waktu bergilir. Detik berganti detik. Menitpun telah berubah. Tidak terasa sudah satu jam setengah aku, dan kawan-kawaan duduk menunggu kapan operasi usai. Tepat pukul 18:30 dokter keluar dari ruang operasi. Sontak saja aku dan kawan-kawan berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri dokter yang masih mengenakan pakaian operasi. “Bagaimana keadaan ayah saya dok?”, kutanya dokter dengan muka khawatir. “Tenang dik, puji Tuhan operasinya berjalan dengan lancar”, ucap dokter dengan senyuman.
Satu minggu kemudian. Kondisi bapak sudah mulai membaik dan hari aku muali sekolah. Ku menatap koridor sekolah. Kutarik napas secara perlahan, lalu ku hembuskan dengan pelan melalui hidung. Hari ini sepulang sekolah aku ada janji dengan sahabatku untuk pergi kerumah Nabila. Setelah sesampainya dirumah Nabila “Eh, dari pada diam-diam, mending kita nyanyi, kebetulan tadi Dimas bawa gitar”, cetus Gina. “Kuy”, ujar mereka serempak. Kamipun mulai bernyanyi besama-sama. Ingat tidak semua kebahagiaan itu berasal dari hal-hal yang luar biasa, karena biasanya kebahagiaan itu berasal dari hal-hal sederhana seperti ini, berkumpul bersama, bernyanyi bersama dan berbagi cerita yang suatu saat nanti akan menjadi sebuah kisah klasik. Inilah kisah perjalanan kami. Tidak ada yang mulus dari suatu hubungan, namun bukan berarti kami tidak bisa bersatu. Seperti iklan mie ibdomie yang berkata, minyak dan air memang berbeda, namun air dan minyak bisa tinggal ditempat yang sama. Inilah kami dengan segala perbedaan kami dari berbagai segi yang memilih untuk tinggal bersama dalam jalinan persahabatan. Tiga kata yang tak mungkin cukup mendeskripsikan perasaanku kepada mereka “Aku sayang mereka”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar